Hierarkinews, MAKASSAR — Sebuah diskusi publik bertema “Budaya Pop dan Tradisi: Ruang Publik sebagai Titik Temu Generasi Z di Kabupaten Maros” digelar sebagai wadah pertukaran gagasan mengenai dinamika budaya anak muda dan pelestarian tradisi lokal. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu akademisi Yudhi Abdi Wibowo dan penggiat budaya generasi Z Muhammad Taufiq Hidayat.
Acara yang berlangsung dengan antusias tersebut memberikan ruang bagi generasi muda untuk memahami bagaimana budaya pop dapat berdampingan dengan nilai-nilai tradisi lokal.
Dalam pemaparannya, Yudhi Abdi Wibowo menekankan pentingnya ruang publik sebagai area interaksi yang inklusif.
“Ruang publik bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga arena pembentukan identitas budaya. Generasi Z perlu didorong untuk menjadikan budaya pop sebagai pintu masuk memahami tradisi,” ujarnya.
Sementara itu, Muhammad Taufiq Hidayat mengatakan bahwa Generasi Z tumbuh dan berkembang di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Sehingga dari kecakapan dalam akses digital itu Gen Z diharapkan selalu terlibat aktif dalam mengisi ruang-ruang publik di era modernisasi sebagai salah satu bagian dalam menata arah kebijakan dan perkembangan budaya akhir-akhir ini,” Jelasnya.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Dr. Asrianto, S.E., M.M., selaku ketua pengusul kegiatan. Ia menegaskan bahwa diskusi publik semacam ini penting untuk memperkuat kesadaran budaya di tengah perkembangan global.
“Kita ingin membuka ruang dialog yang sehat antara tradisi dan budaya pop agar keduanya tidak saling menghapus, tetapi saling menguatkan,” kata Dr. Asrianto.
Diskusi publik tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk merancang program-program kebudayaan yang lebih dekat dengan anak muda serta menghidupkan ruang publik sebagai pusat kegiatan kreatif di Kabupaten Maros.
Kegiatan ini dilaksanakan di warkop Salewangang, Kabupaten Maros, 11 Maret 2026. Dan di hadiri oleh Unsur Pemuda di Kabupaten Maros.










