Hierarkinews, MAKASSAR – Ahmad Perdana Putra Lahir di Padaelo, 21 Maret 1994, Ahmad tumbuh besar di lingkungan yang menjunjung tinggi harga diri dan kerja keras di Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone, Sulawesi selatan. Nilai-nilai lokal ini yang kemudian menjadi kompas moral dalam perjalanan hidupnya. Bagi Ahmad, setiap langkah adalah proses, dan setiap proses harus dituntaskan dengan penuh tanggung jawab.
Di tengah dinamika gerakan pemuda di Sulawesi Selatan, nama Ahmad Perdana Putra muncul sebagai simbol kaderisasi yang paripurna. Ia bukan “pemain kemarin sore” yang muncul tiba-tiba karena momentum. Ketokohannya adalah kristalisasi dari keringat dan jam terbang di berbagai medan organisasi. Kini, sebagai Sekretaris Umum DPD KNPI Sulawesi Selatan, ia berperan sebagai mesin utama yang menggerakkan ribuan pemuda di tanah Celebes, berbekal pengalaman matang dari akar rumput hingga panggung strategis.
Ahmad Memulai perjalanan intelektualnya di S1 Hukum Universitas Bosowa 45 Makassar, ia mengasah ketajaman analisis dan logika berpikirnya. Tak berhenti di sana, dedikasinya terhadap dunia hukum membawanya menyelesaikan studi S2 Kenotariatan di Universitas Hasanuddin. Kini, ia berprofesi sebagai seorang Notaris, Ahmad membawa standar profesionalisme tinggi ke dalam organisasi. Ketelitian, legalitas, dan integritas yang menjadi napas profesinya sehari-hari
Ketajaman berpikir Ahmad mulai terasah saat ia menginjakkan kaki di Fakultas Hukum Universitas Bosowa 45 Makassar. Di sana, ia tidak hanya tenggelam dalam tumpukan literatur hukum, tetapi juga menceburkan diri ke dalam rahim Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). HMI menjadi kawah candradimuka tempat karakter kepemimpinannya ditempa.
Kepercayaan itu terbukti saat ia dipercaya menakhodai HMI Komisariat Hukum 45 Universitas Bosowa. Di lingkungan yang kritis inilah, Ahmad belajar bagaimana seni advokasi dijalankan, keadilan diperjuangkan, dan tata kelola organisasi yang kaku diubah menjadi dinamis.
Langkah organisasinya semakin lebar saat ia mengemban amanah sebagai Wakil Sekretaris Umum Bidang PTKP HMI Cabang Makassar (2017-2021). Berada di episentrum pergerakan mahasiswa Indonesia Timur, Ahmad berdiri di garis depan untuk memetakan isu-isu krusial kepemudaan. Di fase inilah, jaringan lintas kampusnya menguat, memperluas cakrawala berpikirnya tentang kontribusi pemuda dalam membangun daerah.
Usai menuntaskan “tugas suci” di dunia aktivisme mahasiswa, Ahmad naik kelas ke ranah yang lebih luas melalui Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI). Kapasitasnya kembali teruji saat ia didapuk sebagai Ketua Harian AMPI Sulawesi Selatan.
Posisi ini menjadi pembuktian bahwa Ahmad mampu mengelola organisasi besar yang inklusif. Ia bertindak sebagai simpul komunikasi strategis yang menyatukan kekuatan pemuda di seluruh pelosok Sulawesi Selatan, memastikan AMPI tetap relevan, modern, dan progresif di tengah perubahan zaman.
Seluruh napas militansi dari HMI dan kematangan manajerial dari AMPI kini bermuara pada tanggung jawabnya sebagai Sekretaris Umum DPD KNPI Sulawesi Selatan periode 2026-2029. Di rumah besar pemuda ini, Ahmad adalah sang arsitek di balik layar. Ia memastikan stabilitas organisasi tetap terjaga di tengah beragamnya latar belakang Organisasi Kepemudaan (OKP) yang bernaung di dalamnya.
Ia dikenal memiliki “tangan dingin” dalam merangkul perbedaan. Bagi Ahmad, KNPI bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan laboratorium besar untuk mencetak pemimpin masa depan yang mampu memadukan kearifan lokal Siri’ na Pacce dengan akselerasi globalisasi.
Bagi Ahmad, sukses bukanlah garis finis yang dikejar demi kepuasan pribadi, melainkan sebuah perjalanan panjang yang dipahat di atas batu karang integritas. Ahmad tumbuh dengan satu filosofi sederhana namun mendalam: “Tuntas dalam Proses, Ikhlas dalam Pengabdian.” Kalimat ini bukan sekadar slogan, melainkan kompas yang menuntunnya membawa perubahan nyata bagi sekitarnya.
Ahmad Perdana Putra adalah potret nyata bahwa pemimpin hebat lahir dari konsistensi dalam berproses. Dengan latar belakang hukum yang disiplin dan jaringan yang luas, ia kini berdiri sebagai salah satu tokoh muda Sulawesi Selatan yang patut diperhitungkan.
Baginya, organisasi bukan soal berebut kursi jabatan, melainkan soal warisan yang bisa ditinggalkan untuk generasi yang akan datang.










