Air Sulit, LPG 3 Kg Langka, Petani Soppeng Terjepit: HMI Desak Pemda Bertindak

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hierarkinews, SOPPENG – Ancaman gagal panen mulai membayangi petani di Kabupaten Soppeng. Kondisi cuaca yang tidak menentu dan potensi El Nino berisiko mengurangi ketersediaan air untuk lahan pertanian. Di tengah situasi tersebut, petani justru masih menghadapi persoalan lain, termasuk sulitnya memperoleh LPG 3 kilogram untuk mengoperasikan mesin pompa air.

Kondisi itu dialami salah seorang petani di Desa Maccile, K. Ia mengaku tetap bergantung pada hasil sawah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, termasuk biaya pendidikan anak.

“Kami harus tetap berharap dari hasil sawah kami karena kebutuhan sehari-hari semakin tinggi. Belum lagi biaya anak kami sekolah. Kalau hasil sawah tidak maksimal, kami tidak tahu lagi harus mengandalkan apa untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” keluhnya.

Persoalan semakin berat ketika petani harus mengairi sawah menggunakan mesin pompa. K mengaku kesulitan mendapatkan LPG 3 kilogram yang dibutuhkan untuk menjalankan pompa tersebut.

“Kami mau memompa, tapi kami kesulitan mendapatkan gas 3 kilogram. Sampai-sampai saya titip ke keluarga saya yang berada di kota Makassar untuk membeli gas elpiji 3 kilogram,” ungkap K.

Baca Juga :  HUT ke-81 RI, Pemkot Makassar Luncurkan Program "Merdeka dalam Genggaman

Keluhan tersebut menunjukkan bahwa persoalan petani tidak berhenti pada ketersediaan air. Ketika air sulit diperoleh dan kebutuhan untuk mengoperasikan pompa juga sulit didapatkan, petani harus menanggung beban yang semakin besar untuk mempertahankan produksi sawahnya.

Ketua HMI Cabang Soppeng, Nursandi, menilai kondisi tersebut harus menjadi peringatan bagi pemerintah daerah. Menurutnya, pemerintah tidak boleh menunggu sampai petani benar-benar mengalami gagal panen baru mengambil tindakan.

“Masyarakat, khususnya para petani, saat ini membutuhkan solusi nyata. Dengan adanya ancaman El Niño dan kondisi pertanian yang semakin sulit, pemerintah harus hadir dengan langkah konkret. Jangan sampai pemerintah hanya hadir dalam kegiatan seremonial, sementara masyarakat di lapangan harus berjuang sendiri menghadapi persoalan,” ujar Nursandi.

Nursandi meminta pemerintah melakukan langkah antisipasi sejak dini. Ia menilai pemerintah memiliki ruang untuk memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air dan menyiapkan solusi sebelum kondisi semakin buruk.

“Kalau pemerintah sudah mengetahui adanya potensi ancaman terhadap sektor pertanian, maka langkah antisipasi harus dilakukan sejak awal. Jangan menunggu petani gagal panen baru pemerintah bergerak. Petani membutuhkan kepastian dan perlindungan,” tegasnya.

Baca Juga :  Wali Kota Munafri Hadiri Mukernas dan HUT ke-49 KKSS, Ajak Perkuat Kolaborasi

Ia juga meminta pemerintah memperhatikan persoalan LPG 3 kilogram yang dialami petani. Menurutnya, kebutuhan energi tersebut berkaitan langsung dengan upaya masyarakat memperoleh air untuk lahan pertanian.

“Petani tidak membutuhkan sekadar seremoni dan dokumentasi. Mereka membutuhkan air untuk sawahnya, akses terhadap sarana produksi, kemudahan mendapatkan kebutuhan penunjang pertanian, serta kebijakan yang benar-benar bisa dirasakan manfaatnya,” tambah Nursandi.

Nursandi menegaskan bahwa pemerintah harus mengubah pola penanganan dari sekadar merespons persoalan menjadi melakukan pencegahan. Pemerintah, kata dia, perlu turun langsung melihat kondisi sawah dan mendengar keluhan petani.

HMI Cabang Soppeng mendorong pemerintah daerah segera melakukan pemetaan terhadap wilayah pertanian yang berpotensi terdampak kekurangan air. Pemerintah juga diminta memastikan dukungan sarana pengairan, akses terhadap kebutuhan penunjang pertanian, serta langkah mitigasi bagi petani yang berisiko kehilangan hasil panen.

“Jangan tunggu petani gagal panen baru pemerintah turun tangan. Kalau ancaman sudah terlihat, pemerintah harus bergerak sekarang,” tegas Nursandi.

Berita Terkait

Munafri-Aliyah Bersama Ribuan Warga Semarakkan Maulid Akbar Pesisir di Paotere
Aliyah Mustika Ilham Hadiri GATF GUTF 2026, Makassar Perkuat Posisi sebagai Gerbang Pariwisata Indonesia Timur
Munafri Buka Makassar Cooperative Expo 2026, Dorong Koperasi Jadi Penggerak Ekonomi Rakyat
Kinerja Lurah Disorot, Appi: Ada yang Sehat tapi Tidak Mau Bekerja, Awasi Kebersihan
Satu-satunya dari Sulsel, Munafri Diganjar Penghargaan Inovasi Pemimpin Daerah Award 2026
Wali Kota Makassar Paparkan Inovasi MCH di Kompas TV, Dorong Anak Muda Makassar Jadi Penggerak Ekonomi Kreatif
Merdeka Bermimpi, Berani Berkarya: Sambung Tangan Rayakan Semangat Kemerdekaan Bersama Anak Binaan LPKA Kelas II Maros
Di Bawah Cahaya Lampion, HMI Menitipkan Harapan Masyarakat

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 09:22 WIB

Munafri-Aliyah Bersama Ribuan Warga Semarakkan Maulid Akbar Pesisir di Paotere

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 07:16 WIB

Aliyah Mustika Ilham Hadiri GATF GUTF 2026, Makassar Perkuat Posisi sebagai Gerbang Pariwisata Indonesia Timur

Jumat, 28 Agustus 2026 - 19:38 WIB

Munafri Buka Makassar Cooperative Expo 2026, Dorong Koperasi Jadi Penggerak Ekonomi Rakyat

Jumat, 28 Agustus 2026 - 15:30 WIB

Kinerja Lurah Disorot, Appi: Ada yang Sehat tapi Tidak Mau Bekerja, Awasi Kebersihan

Jumat, 28 Agustus 2026 - 07:20 WIB

Satu-satunya dari Sulsel, Munafri Diganjar Penghargaan Inovasi Pemimpin Daerah Award 2026

Berita Terbaru