Hierarkinews, SOPPENG – Ancaman gagal panen mulai membayangi petani di Kabupaten Soppeng. Kondisi cuaca yang tidak menentu dan potensi El Nino berisiko mengurangi ketersediaan air untuk lahan pertanian. Di tengah situasi tersebut, petani justru masih menghadapi persoalan lain, termasuk sulitnya memperoleh LPG 3 kilogram untuk mengoperasikan mesin pompa air.
Kondisi itu dialami salah seorang petani di Desa Maccile, K. Ia mengaku tetap bergantung pada hasil sawah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, termasuk biaya pendidikan anak.
“Kami harus tetap berharap dari hasil sawah kami karena kebutuhan sehari-hari semakin tinggi. Belum lagi biaya anak kami sekolah. Kalau hasil sawah tidak maksimal, kami tidak tahu lagi harus mengandalkan apa untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” keluhnya.
Persoalan semakin berat ketika petani harus mengairi sawah menggunakan mesin pompa. K mengaku kesulitan mendapatkan LPG 3 kilogram yang dibutuhkan untuk menjalankan pompa tersebut.
“Kami mau memompa, tapi kami kesulitan mendapatkan gas 3 kilogram. Sampai-sampai saya titip ke keluarga saya yang berada di kota Makassar untuk membeli gas elpiji 3 kilogram,” ungkap K.
Keluhan tersebut menunjukkan bahwa persoalan petani tidak berhenti pada ketersediaan air. Ketika air sulit diperoleh dan kebutuhan untuk mengoperasikan pompa juga sulit didapatkan, petani harus menanggung beban yang semakin besar untuk mempertahankan produksi sawahnya.
Ketua HMI Cabang Soppeng, Nursandi, menilai kondisi tersebut harus menjadi peringatan bagi pemerintah daerah. Menurutnya, pemerintah tidak boleh menunggu sampai petani benar-benar mengalami gagal panen baru mengambil tindakan.
“Masyarakat, khususnya para petani, saat ini membutuhkan solusi nyata. Dengan adanya ancaman El Niño dan kondisi pertanian yang semakin sulit, pemerintah harus hadir dengan langkah konkret. Jangan sampai pemerintah hanya hadir dalam kegiatan seremonial, sementara masyarakat di lapangan harus berjuang sendiri menghadapi persoalan,” ujar Nursandi.
Nursandi meminta pemerintah melakukan langkah antisipasi sejak dini. Ia menilai pemerintah memiliki ruang untuk memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air dan menyiapkan solusi sebelum kondisi semakin buruk.
“Kalau pemerintah sudah mengetahui adanya potensi ancaman terhadap sektor pertanian, maka langkah antisipasi harus dilakukan sejak awal. Jangan menunggu petani gagal panen baru pemerintah bergerak. Petani membutuhkan kepastian dan perlindungan,” tegasnya.
Ia juga meminta pemerintah memperhatikan persoalan LPG 3 kilogram yang dialami petani. Menurutnya, kebutuhan energi tersebut berkaitan langsung dengan upaya masyarakat memperoleh air untuk lahan pertanian.
“Petani tidak membutuhkan sekadar seremoni dan dokumentasi. Mereka membutuhkan air untuk sawahnya, akses terhadap sarana produksi, kemudahan mendapatkan kebutuhan penunjang pertanian, serta kebijakan yang benar-benar bisa dirasakan manfaatnya,” tambah Nursandi.
Nursandi menegaskan bahwa pemerintah harus mengubah pola penanganan dari sekadar merespons persoalan menjadi melakukan pencegahan. Pemerintah, kata dia, perlu turun langsung melihat kondisi sawah dan mendengar keluhan petani.
HMI Cabang Soppeng mendorong pemerintah daerah segera melakukan pemetaan terhadap wilayah pertanian yang berpotensi terdampak kekurangan air. Pemerintah juga diminta memastikan dukungan sarana pengairan, akses terhadap kebutuhan penunjang pertanian, serta langkah mitigasi bagi petani yang berisiko kehilangan hasil panen.
“Jangan tunggu petani gagal panen baru pemerintah turun tangan. Kalau ancaman sudah terlihat, pemerintah harus bergerak sekarang,” tegas Nursandi.











